Siniar Spesial Lintas Merayakan Hari Buku Sedunia
Banyak yang membuat kata bijak tentang buku. Jendela ilmu, pelita di tengah gulita, jembatan kesuksesan, dan masih banyak lagi. Maka sangat wajar apabila buku diberikan momentum perayaan khusus, baik yang berskala nasional maupun global.
Hari Buku Sedunia (World Book Day) dirayakan tiap 24 April. Sebagai komunitas yang berfokus di bidang literasi, Lintas berupaya menyajikan kegiatan-kegiatan spesial untuk merayakannya. Salah satu yang dilaksanakan adalah sebuah siniar literasi yang menghadirkan tiga penulis dari tiga platform berbeda pada 27 April 2025. Mereka adalah Henry Setiawan dari Lentera App, Izadina dari Wattpad, dan Zelda Maharani dari Komunitas Bisa Menulis (dan pernah di Wattpad juga). Ketiganya berkisah tentang perjalanan karier sebagai penulis, termasuk lika-liku dalam mengatasi tantangan sebagai penulis pemula. Zelda dan Henry juga menuturkan pengalaman mereka sebagai penulis dari kalangan penyandang disabilitas netra. Misalnya, ketika perlu mendeskripsikan tokoh dari segi visual, Zelda akan melakukan riset terlebih dahulu, entah dengan bertanya ke se, entah berdiskusi dengan aplikasi berbasis AI.
Dalam dialog hangat yang dipandu oleh Iin Saputri atau akrab disapa Kak Iin (Ketua Komunitas Lintas) ini, Izadina sempat membeberkan kiatnya mendalami sebuah karakter menggunakan tes psikologi. Penulis novel Dapur Ajaib, Nikmati Selagi Hangat, dan Seven Days Before ini juga sempat bertanya bagaimana disabilitas netra mengakses bahan bacaan yang belum tersedia dalam format braille, audio, ataupun elektronik. Berdasarkan penjelasan Zelda dan Kak Iin, dapat disimpulkan bahwa hal ini memang masih jadi kendala bagi sebagian besar penyandang disabilitas netra. Sebab itu, tidak mengherankan apabila masih banyak di antara mereka yang sulit mengimbangi rekan-rekan dari kalangan nondisabilitas ketika hendak memperbarui koleksi buku bacaan.
Terkait fenomena digitalisasi bacaan yang merebak beberapa tahun belakangan, ketiga penulis ini sepakat bahwa hal itu tidak bisa dihindari. Namun, buku cetak tetap masih banyak peminatnya. Masih banyak penulis yang akan lebih bangga ketika buku mereka terpajang di toko buku. Di sisi lain, buku digital dengan harga yang cenderung lebih murah, tentu akan lebih diminati oleh pembaca. Meski begitu, masih banyak orang yang berpreferensi buku cetak karena sensasi saat menggenggamnya, mengendus aroma kertasnya, dan membolak-balik halamannya, tidak akan dapat tergantikan oleh format digital. Dialog dengan tiga penulis ini bertujuan untuk makin membuka wawasan Sobat-Sobat Lintas tentang dunia kepenulisan. Pengalaman, gagasan, dan kiat-kiat yang mereka tuturkan diharapkan mampu menyalakan semangat Sobat-Sobat Lintas untuk berkarya dengan lebih tekun, berani, dan kreatif.
Komentar
Posting Komentar