Setelan Membaca

Videografi

Konten Utama

Daftar Postingan

Mengapa Wanita Memilih Menjadi Atlet?

Sebagian orang menganggap fisik wanita lebih rapuh daripada pria. Namun, saya sendiri tidak sepakat dengan pendapat tersebut. Alasannya karena saat ini banyak juga kaum Hawa yang memilih profesi sebagai atlet, yang tentunya membutuhkan fisik yang prima, karena mereka harus berlatih dan bertanding dalam jangka waktu yang panjang. Banyak sekali kita temui para wanita yang memilih jalan hidupnya sebagai olahragawati. Di Indonesia kita mengenal para Srikandi yang mengharumkan nama bangsa, dalam bulutangkis era sembilan puluhan ada Susy Susanti, yang meraih medali emas di Olimpiade Barcelona, sampai di olimpiade Tokyo dua tahun silam, dua perempuan mengharumkan Indonesia dengan raihan medali emas, yaitu Gresya Polie dan Apriani Rahayu. Di ankat besi kita mengenal Windi Cantika Aisyah, di sepakbola ada Zahra Musdilifah, dan masih banyak lagi olahragawati yang lainnya. Melansir liputan6.com, dalam pekan olahraga nasional Papua ada 2.787 wanita meramaikan ajang empat tahunan ini. Dalam kancah in
Baca Selengkapnya

Ladies First, Mengapa Kesetaraan Gender Masih Menuntut Perlakuan Spesial?

Kesetaraan gender kini menjadi perjuangan kaum perempuan. Namun, mengapa mereka masih saja ingin diperlakukan spesial? Saya acapkali mendengar frasa Ladies First yang ditujukan untuk kaum perempuan. Mereka harus diprioritaskan dalam segala hal. Mereka harus dilindungi dari ancaman. Mereka tidak boleh sampai diterlantarkan. Kaum perempuan selalu menjadi objek yang diprioritaskan. Misalnya, di kendaraan umum tersedia kursi khusus untuk penumpang perempuan. Mereka tidak protes, kok, dibeda-bedakan dengan penumpang lain. Justru, fasilitas tersebut tetap digunakan oleh mereka. Sebenarnya, hal itu wajar saja dinikmati. Namun, mengapa harus ada kesetaraan gender? Apakah segala keistimewaan yang sudah diterima masih kurang dari harapan? Kaum perempuan, kan, sudah diperlakukan spesial. Menurut saya  Kesetaraan gender bukanlah tentang meminta perlakuan spesial atau istimewa bagi kaum perempuan. Sebaliknya, itu adalah tentang memberikan kesempatan yang sama dan perlakuan yang adil tanpa memandang jen
Baca Selengkapnya

Peran Perempuan Hasilkan Generasi Emas yang Berkualitas

Peran perempuan dalam membentuk generasi bangsa tidak dapat dipungkiri. Mereka memiliki tugas yang sangat vital dalam membentuk nilai-nilai kemanusiaan dan keberhasilan suatu bangsa. Sebab, lahirnya generasi bangsa yang baik sangat bergantung pada kemampuan perempuan dalam membangun fondasi moral dan etika yang kuat di dalam keluarga serta masyarakat.   Seiring berkembangnya zaman, beberapa perempuan mulai melupakan fitrah mereka sebagai ibu dan pengasuh anak. Mereka mungkin tidak mampu atau tidak ingin menjalankan peran tradisional tersebut, dan memilih menitipkan anak kepada orang tua atau bahkan menyewa pengasuh. Akibatnya, waktu yang dihabiskan bersama anak semakin sedikit dan anak mungkin menjadi lebih dekat dengan pengasuhnya daripada ibunya sendiri. Ksibukan perempuan dalam bekerja atau mengejar karir menjadikan perempuan tidak lagi memiliki waktu untuk memperhatikan buah hati mereka. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam mengasuh anak juga menjadikan perempuan yang tidak m
Baca Selengkapnya

A Feast for Crows (Buku keempat A Song of Ice and Fire)

Part 4



CERSEI 



Dia bermimpi duduk di takhta Besi, jauh di atas mereka semua.

Para anggota istana serupa tikus berwarna cerah di bawah. Para lord agung dan Lady terhormat berlutut di hadapannya. Ksatria muda pemberani meletakkan pedang mereka di kakinya dan memohon pertolongan. ratu 

tersenyum pada mereka.

Sampai si cebol itu muncul entah dari mana, menuding ke arahnya dan tertawa terbahak-bahak.

Para lord dan lady mulai cekikikan juga, menyembunyikan senyum di balik tangan mereka. Baru kemudian sang ratu menyadari bahwa dia telanjang.

Karena ngeri, dia mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan. Saat berjongkok demi menyembunyikan rasa malu, duri dan bilah takhta Besi menancapi dagingnya.

Darah mengalir ke kaki saat gigi baja menggerogoti pantatnya. Saat mencoba berdiri, kakinya terpeleset melalui celah di logam yang bengkok.

Semakin dia berjuang, semakin rakus tahta menelannya, merobek potongan daging dari payudara dan perutnya, mengiris lengan dan kakinya sampai licin dan merah, berkilau. Dan sementara itu adiknya meringkuk di bawah, tertawa.

Kegembiraan masih menggema di telinga ratu saat dia merasakan sentuhan ringan di bahunya, dan tiba-tiba terbangun. Selama setengah detak jantung, tangan itu tampak seperti bagian dari mimpi buruk, dan Cersei berteriak, tapi itu hanya Senelle, pelayannya.

Wajah pelayan itu pucat pasi dan ketakutan.

Kami tidak sendiri, ratu menyadarinya.

Bayangan menjulang di sekitar tempat tidurnya, sosok-sosok tinggi dengan kalung rantai berkilauan di bawah jubah mereka. Orang-orang bersenjata tidak punya 

urusan di sini.

Di mana pengawalku? Kamar tidurnya gelap, hanya ada cahaya lentera salah seorang pendatang yang dipertahankan di tempat tinggi. Aku tidak boleh menunjukkan rasa 

takut.

Cersei menyibakkan rambutnya yang kusut dan berkata, "Apa yang kalian inginkan dariku?" Seorang pria melangkah ke cahaya lentera, dan ratu melihat jubah putihnya.

Jaime? Aku memimpikan seorang adik laki-laki, tetapi yang lainnya datang membangunkanku.

"Yang Mulia." Suara itu bukan milik adiknya. "Lord komandan memerintahkan untuk datang menjemput Anda." 

Rambutnya keriting, seperti milik Jaime, tapi rambut adiknya terbuat dari emas, seperti rambutnya sendiri, sedangkan pria ini berkulit hitam berminyak.

Dia menatapnya bingung. pria itu bergumam tentang kakus dan busur silang, dan menyebut nama ayahnya.

Aku masih bermimpi, pikir Cersei. Aku belum bangun, mimpi burukku juga belum berakhir.


Tyrion akan segera merayap keluar dari bawah tempat tidur dan mulai menertawakanku.

Tapi itu bodoh. Adik cebolnya itu berada di sel hitam, dihukum mati hari ini. Dia menatap tangannya, membaliknya untuk memastikan semua jarinya masih 

ada. Ketika dia mengusap lengannya, kulitnya merinding, tapi tidak rusak.

Tidak ada luka di kakinya, tidak ada luka di telapak kakinya. Sebuah mimpi, itu saja, sebuah mimpi.

Aku minum terlalu banyak tadi malam, ketakutan ini hanya kelakar yang lahir dari anggur. Akulah yang akan tertawa saat senja tiba.

Anak-anakku akan selamat, tahta Tommen akan aman, dan si adik kecilku yang sinting akan makin cebol dan membusuk.

Baca Selengkapnya

A Feast for Crows (buku keempat A Song of Ice and Fire)

Part 3



Komandan Pengawal



"Jeruk darahnya sudah hampir matang,” kata pangeran dengan suara letih ketika komandan mendorong kursi berodanya ke teras. Setelah itu dia tidak berbicara lagi selama berjam-jam.

Soal jeruk itu memang benar. Beberapa telah berjatuhan pecah di atas marmer merah muda pucat.

Aroma manis yang tajam memenuhi lubang hidung Hotah setiap kali dia menarik napas.

Pastilah sang pangeran juga bisa mencium baunya saat duduk di bawah pepohonan di atas kursi beroda yang dibuatkan Maester Caleotte untuknya dengan bantal 

bulu angsa dan roda kayu eboni dan besi yang bergemeretak.

Untuk beberapa lama, satu-satunya suara yang terdengar adalah suara anak-anak yang memercik di kolam dan air mancur,

lalu satu kali bunyi celepuk ketika jeruk berikutnya jatuh meletus di teras. 

Kemudian, dari sisi jauh istana, komandan mendengar ketukan pelan sepatu bot di atas marmer.

Obara. Dia tahu itu langkahnya; panjang, tergesa, gusar.

Di kandang di dekat gerbang, kudanya pasti sudah berbuih dan berdarah akibat dipacu begitu rupa.

Dia selalu menunggang kuda jantan, dan pernah terdengar dia menyombongkan diri bahwa dia bisa menguasai kuda mana pun di Dorne. . . dan juga pria mana pun.

Sang komandan juga bisa mendengar langkah kaki lainnya, ketukan langkah lembut namun cepat milik Maester Caleotte yang bergegas mengikuti.

Obara Sand selalu berjalan terlalu cepat. Dia mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa dia tangkap, pangeran pernah memberi tahu putrinya begitu dan komandan mendengarnya.

Saat Obara muncul di bawah bangunan melengkung rangkap tiga,

Areo Hotah mengayunkan kapak panjangnya ke samping untuk menghalangi jalan.

Kepala kapak menancap pada ujung sebatang tongkat abu gunung sepanjang enam kaki, jadi Obara tidak bisa berjalan memutarinya.

"My Lady, tidak boleh lebih jauh." Ia menggerutu dengan suara bas yang kental dengan aksen Norvos. "Pangeran tidak ingin diganggu."


Baca Selengkapnya

A Feast for Crows (buku keempat serial A Song of Ice and Fire)

Part 2



Sang Pengabar



Sang Pengabar sedang membenanmkan orang-orang di Great Wyk ketika sejumlah orang berkuda datang untuk memberitahunya bahwa raja telah mati.

Pagi itu suram, dingin, dan laut sekelam langit. Tiga pria pertama di antara empat orang yang dibenamkan itu telah mempersembahkan hidup mereka kepada Dewa Terbenam tanpa rasa takut, tapi yang keempat lemah iman dan mulai berjuang saat paru-parunya berteriak mencari udara.


Berdiri sedalam pinggang di dalam ombak, Aeron mencengkeram pundak anak laki-laki telanjang itu dan mendorong kepalanya ke bawah saat mencoba menarik 

napas.

“Cobalah untuk berani,” katanya. “Kita berasal dari

laut, dan ke laut kita akan kembali. Bukalah mulutmu dan minumlah berkat dewa. Isi paru-parumu dengan air, agar kau bisa mati dan terlahir kembali. Tidak 

ada gunanya meronta. "

Baca Selengkapnya

Emang Iya Perempuan Tidak Berlogika?

Perempuan makhluk perasa dan tidak berlogika adalah pernyataan yang bias dan stereotipikal tentang perempuan. Pernyataan ini didasarkan pada pandangan umum bahwa perempuan cenderung lebih emosional dan kurang logis dibandingkan dengan laki-laki. Namun, menurut gue pandangan ini kurang tepat dan tidak bisa digeneralisasi begitu aja. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki emosi, perasaan, dan pikiran yang kompleks. Kedua jenis kelamin sama-sama memiliki kemampuan untuk merasakan emosi dan memproses informasi dengan cara yang berbeda-beda. Perempuan dan laki-laki dapat merespon situasi dengan cara yang berbeda, tetapi ini tidak berarti bahwa satu jenis kelamin lebih emosional atau lebih logis daripada yang lain. Nyatanya ada aja kok perempuan yang lebih logis dari laki-laki, dan ada pula laki-laki yang lebih perasa dari perempuan. Sejarah telah membuktikan bahwa meskipun perempuan dianggap kurang mampu dalam bidang-bidang tertentu pada masa lalu, seiring waktu, semakin banyak perempuan ya
Baca Selengkapnya

Inspirasi yang Justru Menjadi Ironi

Kata orang, perempuan biasanya hanya berkutat di dapur, mempercantik diri, dan melahirkan anak yang sehat. Padahal cara pandang seperti ini sudah terlalu ketinggalan zaman, kalau tidak mau disebut primitif. Mengapa bisa begitu? Karena dalam sejarahnya, banyak sekali perempuan yang berhasil mendobrak tatanan sosial yang ada, menjadi legenda bagi umat manusia. Dari Indonesia ada Kartini yang menyuarakan ide habis gelap terbitlah terang, Marya Ulfah yang berhasil merintis tatanan sosial berasas hukum yang adil. Belum lagi Ratu Kalinyamat, Ratu Sima, dan Ratu Shofiyah dari Aceh yang memantapkan diri di dalam pimpinan negeri yang menyejahterakan rakyatnya. Oh ya, jangan lupakan Laksamana Mala Hayati, Cut Nyak Dien, dan sejumlah ahli peperangan wanita lainnya. Masing-masing dari mereka cerdas dalam rimba pemikiran militer. Belum dari luar, seperti Habsesut dari Mesir, Elizabet I dan II, serta para maharani yang lain, yang sekuat tenaga mereformasi kerajaannya agar menjelma sebagai kerajaan ya
Baca Selengkapnya

Braille Literacy in Audio Technology Era

Since it was  founded in 1821, Braille writing system has opened up greater opportunities for the visually impaired to access unlimited information. They can read and write independently to improve their knowledge and skills, enjoy literary works, access news, and  even correspond with each other . In addition, with Braille, blind students have equal access to participate in education. Braille has also raised the social status of the visually impaired. Before the invention of the Braille system, people with visual disability were viewed not just as persons who do not have sight , but also as different species, more innocent and malleable individuals, even semi-finished creatures (Aviv, 2010). But now, Braille literacy allows the visually impaired to have a decent education. Unfortunately, the development of Braille usage is not as expected because not all blind people learn to use it. While people know that Braille system is the fundamental tool of written communication for the blind, th
Baca Selengkapnya